Gempa bumi dengan kekuatan bermagnitudo 7.4 (sebelumnya 7.7) terjadi pada Jumat tanggal 28 September 2018 terjadi di Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa bumi yang terjadi menimbulkan tsunami yang melanda beberapa wilayah diantaranya adalah sepanjang pantai kota Palu dan di pantai Donggala bagian barat. Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tsunami yang terjadi di sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah ketinggiannya bervariasi. Titik tertinggi tsunami tercatat 11,3 meter, terjadi di Desa Tondo, Palu Timur, Kota Palu. Sedangkan titik terendah tsunami tercatat 2,2 meter, terjadi di Desa Mapaga, Kabupaten Donggala. Hasil dari laporan situasi yang dirilis BNPB update 5 februari 2019 menyebutkan bahwa gempa dan tsunami Sulawesi Tengah menimbulan dampak kerugian sebesar Rp. 2,89 triliun rupiah dan dampak kerusakan sebesar 15,58 triliun rupiah, mengakibatkan 4.340 warga hilang dan meninggal, 172.635 warga mengungsi dan 4.438 jiwa mengalami luka-luka.
Gempa yang terjadi merupakan gempa akibat aktivitas sesar Palu-koro, sesar ini memanjang dari perairan laut Sulawesi hingga teluk Bone. Sesar Palu-Koro terbentuk akibat peristiwa benturan ketiga lempeng tektonik yang ada dalam lingkup Sulawesi Tengah, ketiga lempeng tersebut iyalah lempeng mikrotektonik aktif benua Australia (Banggai-Sula) dari timur ke lempeng benua Europa-Asia/sunda land dari barat dan lempang Mikro laut Filipina dari Utara. Sesar Palu-Koro merupakan patahan geser mengiri dan bercabang (bifurcation). Pusat Gempa Nasional (PUSGEN) membagi sesar ini menjadi empat bagian diantaranya segmen selat Makasar, segmem Saluki, segmen Palu dan Segmen Moa. Sejarah gempa mencatat sebelumnya telah terjadi gempa di sepanjang sesar ini pada tahun 1927 disertai dengan Tsunami, 1938 disertai tsunami menerjang daerah Mamboro kab. Donggala, 1968 terjadi gempa dengan magnitudo 7,3 berpusat di laut Sulawesi menyebabkan tsunami yang menyapu pantai Donggala dan pada tahun 2012 gempa berpusat di Kulawi kab. Sigi.(1)
Gempa yang terjadi selain memicu tsunami juga mengakibatkan terjadinya likuifaksi di beberapa daerah di sekitar kota Palu. Likuifaksi merupakan gejala peluruhan pasir lepas yang bercampur dengan air akibat guncangan gempa, dimana gaya pemicu melebihi gaya yang dimiliki litologi (deskripsi batuan) setempat dalam menahan gempa, hal ini menyebabkan beberapa kejadian seperti penurunan cepat (quick settlement), pondasi bangunan miring (tilting), penurunan sebagian (differential settlement) dan mengeringnya air sumur yang tergantikan oleh mineral nonkohesif.(1) Akibat dari dampak yang terjadi setelah gempa menyebabkan likuifaksi di beberapa daerah diantaranya di Balaroa yang merupakan daerah yang tepat berada ditengah sesar Palu-Koro, Petobo, Jono Oge dan Sibalaya Selatan.
Beberapa penelitian mengemukaan bahwa gempa palu merupakan jenis gempa dengan kecepatan langka atau disebut supershear. Gempa supershear merupakan gempa yang kecepatannya melebihi kecepatan gelombang geser seismik dan menyebabkan ledakan sonik. Umumnya kecepatan gempa ada di kisaran 4-9 kilometer per detik. Namun, gempa bumi supershear mendobrak teori itu dan bergerak dengan kecepatan super hingga dianalogikan menyebabkan efek ledakan sonik.(2) Studi mengenai gempa supershear telah dilakukan diantaranya oleh Socquet dan rekannya, mengevaluasi radar citra satelit untuk membatasi tata ruang distribusi perpindahan permukaan terkait dengan gempa Palu, menyimpulkan bahwa gempa mungkin pecah di kecepatan retak supershear. Dalam studi pelengkap, Bao dan rekan-rekannya menganalisis pengamatan seismik di jarak regional dan jarak teleseismik untuk membuktikan meyakinkan bahwa Gempa Palu 2018 merambat pada kecepatan retakan supershear. disimpulkan bagian retakan mengikuti jejak retakan di permukaan dan menunjukkan retakan supershear berkelanjutan dengan kecepatan sekitar 4,1 km s– 1. Simulasi Numerik sebelumnya menunjukkan kecepatan supershear tidak dapat dihasilkan pada tahap awal pecahnya, sebaliknya pecahnya harus berpindah dari subshear ke kecepatan supershear. Bao dan rekannya menyimpulkan dari pengamatan mereka bahwa gempa Palu mencapai supershear pada awal selama proses retakan. (3) Penelitian penelitian ini mengungkap pesona lain dari gempa yang terjadi di Palu 28 September silam yang masuk kedalam salah satu jenis gempa langka, gempa supershear.
Liensu
Referensi
(1) Kusumah M, dKK. 2018. Dibalik Pesona Palu Bencana Melanda Geologi Manata. Badan Geologi Kementrian ESDM. Bandung
(2)https://sains.kompas.com/read/2019/02/07/081430523/gempa-palu-resmi-dinyatakan-fenomena-supershear-langka.
(3) Mai PM (2019) Supershear tsunami disaster. Nature Geoscience 12: 150–151. Available: http://dx.doi.org/10.1038/s41561-019-0308-8.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar