Senin, 01 April 2019

Romansa Muda Pemuda Brebes

22 Februari 2018, longsor terjadi di desa Pasir Panjang Brebes Jawa Tengah pada pagi hari sekitar jam 8 pagi. Aku dan keluarga sedang menyiapkan acara syukuran mamah yang akan berangkat umroh. Tiba- tiba notifikasi handphone aku banyak sekali pas dibuka semua adalah pemberitahuan bencana ini. 
Hati mulai cemas, jari mulai lincah memainkan perannya mencari berita terkini perkembangan dampak yang terjadi akibat longsor. Malam pun tiba, syukuran di rumah aku mulai dari sehabis magrib. Sebelum acara mulai aku bilang ke mamah, "mah, mau ke brebes yaa jadi relawan, berangkat malem ini naik kereta. boleh?" dengan bingung dia jawab "yaudah". Aku berfikir kalo jawaban itu artinya iya, langsung laah aku berkemas membawa baju dan keperluan lainnya untuk ke lokasi bencana. naik kereta jam sekitar jam set 9 malam dari cibinong ke pondok ranji, sampai di pondok ranji di jemput dengan motor menuju kampus. 
aku berangkat menuju lokasi ditumpangi mobil jenazah dmc. Pertama kalinya naik mobil jenazah langsung berpergian jauh ke tempat bencana pula rasanya "Amazing" luar biasa, apapun dilakukan demi tumpangan geratiiissss

Surya mulai berada tepat diatas kita berpijak disitu pula aku sampai di brebes, memasuki desa pasir panjang terlihat disepanjang aliran sungai lumpur tanah coklat kemerahan dan potongan potongan pohon berserakan sisa sisa dari longsor yang terjadi tepat sehari sebelumnya. 

Area yang terdampak longsor sangat luas, kerugiannya pun sangat banyak. area persawahan, kebun, jalan dan rumah, ternak yang dimiliki warga semua dihantam oleh tanah longsor. Belasan orang meninggal dan luka luka, puluhan orang kehilangan rumah mereka.

Menjadi relawan disetiap daerah yang berbeda dengan jenis bencama yang berbeda memberikan kita sebuah warna baru dalam pengalaman hidup. di brebes ini aku belajar bahwa, percayalah kawan anak muda itu punya kekuatan lebih maka berikanlah mereka kesempatan untuk membantu menanggulangi bencana. Semangat membara terpancar di hingar bingar mata yang penuh harapan dari pemuda desa pasir panjang yang memiliki keinginan besar untuk membantu evakuasi beberapa kerabat mereka yang belum ditemukan. 


sayangnya keinginan mereka dipatahkan hanya dengan alasan tidak punya pengalaman dan peralatan lengkap. yaaa memang benar bila ingin melakukan evakuasi harus mengutamakan safety procedure tapi bukankah lembaga lembaga itu punya peralatan yang bisa dipinjamkan kepada mereka. ketahui laah mereka itu punya kemampuan kenal medan yang baik, karena mereka itu sudah mengenal seluk beluk daerahnya.


Sekitar tiga hari pasca longsor warga mulai banyak mengeluh mengenai kebutuhan pokok yang tak kunjung terpenuhi. Aku dan kawan kawan telah mengundang pemuda pasir panjang untuk memikirkan dan bekerjasama memenuhi kebutuhan pokok mereka tepat sehari sebelumnya, namum mereka menolak dengan dalih evakuasi lebih penting. mereka belum sadar bahwa perut orang yang hidup lebih penting dibanding menyelamatkan orang yg tak tau keberadaannya. Setelah semua warga merakasan ketidak cukupannya bantuan yg diterima, barulah para pemuda ini memyambangi aku dan dari situlah kami membentuk pos bersama untuk menerima dan mendistribusikan bantuan secara cepat. disinilah awal mula kedekatan antara karang taruna desa pasir panjang yang biasa disebut HIPPEMAP. 


Hari dimulai dengan membuka pos di rumah ibu uci letaknya di pertigaan jalan menuju area longsor. kami bekerja bersama mendesign posko dipagi hari, menerima dan mencatat pemasukan logistik dan donasi yang masuk memudian mengemas logistik yang aka di bagikan. aku membuat formulasi pembagian sendiri berdasarkan jumlah jiwa pada satu kk. semua mengikuti komando yang aku sebutkan, setiap item bantuan di jaga oleh satu orang selanjutnya ada kantong plastik dengan nama berdasarkan kepala kk kemudian aku menyebutkan jenis dan banyaknya baranh yang harus dimasukkan. dengan suara cempreng yang khas ini aku berteriak setiap malam seperti contoh kombinasi bantuan "Mie 2, aqua 2, roti 4, sabun 1, biskuit 1 pembalut 1" suara siara semacam ini rutin terdengar setiap  hari hingga hari ke 4 setelah kita membuka pos bersama, kami lakukan ini diselingi dengan bercanda tawa bersama hingga lelah tidak kami rasakan lagi. Suara ini yang membuat mereka rindu dengan aktifitas tanpa pamrih membantu orang, hingga setahun berlalu ketika bebeberapa pemuda hippemap memgirim pesan kepada aku mereka bilang "Kalo inget suka ketawa sendiri serius,mie dua tolak angin satu roti dua 😂😂😂😂 suaranya ituloh" tutur ibeng yang biasa panggil aku dengan sebutan milea, hal yang hampir sama juga di ucap oleh luki pemuda hippemap yang paling muda dan paling rajin menemani aku dan kawan kawan bertugas assessment dan distribusi logistik. Selama delapan hari ku habiskan waktu ku meninggalkan aktifitas laboratorium penelitian untuk membantu desa ini, makan, bercengkrama sembari berkerjasama untuk menanggulangi bencana.

Bukan Hanya Cinta yang bisa Romantis,

Saling membantu tanpa saling tahu, bercengkrama lepas tanpa beban, bertukar pikiran tanpa batas, berjabat tangan memulai kerjasama

liensu,  kisah di

22 Februari - 3 Maret 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar